Minggu, 07 Oktober 2012

PENGERTIAN KONSUMEN, CIRI-CIRI KONSUMEN, PERILAKU KONSUMEN, PENGGUNAAN SEGMENTASI PASAR DALAM PENETAPAN STRATEGI PEMASARAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN

Pengertian Konsumen dan Ciri-Ciri konsumen

Pengertian Konsumen

Pengertian konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.

Menurut pengertian Pasal 1 angka 2 UU PK, “Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga,, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.”

Sedangkan dalam bagian penjelasan disebutkan “Di dalam kepustakaan ekonomi dikenal konsumen akhir dan konsumen antara. Konsumen akhir adalah pengguna atau pemanfaat akhir dari suatu produk, sedangkan konsumen antara adalah konsumen yang menggunakan suatu produk sebagai bagian dari proses produksi suatu produk lainnya. Pengertian konsumen dalam undang-undang ini adalah konsumen akhir”.

Dari ketentuan dalam undang-undang tersebut secara tersurat nampaknya hanya menitik beratkan pada pengertian konsumen sebagai konsumen akhir yang mana hal tersebut bukan merupakan objek pembahasan dalam tulisan ini. Namun secara tersirat juga mengandung pengertian konsumen dalam arti luas. Hal tersebut nampak pada penggunakan kata “pemakai”. Istilah “pemakai” dalam hal ini tepat digunakan dalam rumusan konsumen untuk mendukung pengertian konsumen akhir, namun sekaligus juga menunjukkan bahwa barang dan/jasaa yang dipakai tidak serta merta hasil dari suatu transaksi jual beli. Artinya sebagai konsumen tidak selalu harus memberikan prestasinya dengan cara membayar uang untuk memperoleh barang dan/jasa tersebut. Dengan kata lain dasar hubungan hukum antara konsumen dan pelaku usaha tidak perlu harus kontraktual ((the privity of contract).


Ciri – Ciri Konsumen

Dua wujud konsumen

1. Personal Consumer : konsumen ini membeli atau menggunakan barang atau jasa untuk
penggunaannya sendiri.

2. Organizational Consumer : konsumen ini membeli atau menggunakan barang atau jasa
untuk memenuhi kebutuhan dan menjalankan organisasi
tersebut.

Production concept
Konsumen pada umumnya lebih tertarik dengan produk-produk yang harganya lebih murah. Mutlak diketahui bahwa objek marketing tersebut murah, produksi yang efisien dan distribusi yang intensif.

Product concept
Konsumen akan menggunakan atau membeli produk yang ditawarkan tersebut memiliki kualitas yang tinggi, performa yang terbaik dan memiliki fitur-fitur yang lengkap.

Selling concept
Marketer memiliki tujuan utama yaitu menjual produk yang diputuskan secara sepihak untuk diproduksi.

Marketing concept
Perusahaan mengetahui keinginan konsumen melalui riset yang telah dilakukan sebelumnya, kemudian memproduksi produk yang diinginkan konsumen. Konsep ini disebut marketing concept.

Market segmentation
Membagi kelompok pasar yang heterogen ke kelompok pasar yang homogen.

Market targeting
Memlih satu atau lebih segmen yang mengidentifikasikan perusahaan untuk menentukan.

Positioning
Mengembangkan pemikiran yang berbeda untuk barang dan jasa yang ada dalampikiran
konsumen.

Menyediakan nilai pelanggan didefinisikan sebagai rasio antara keuntungan yang dirasakan sumber-sumber (ekonomi, fungsional dan psikologi) digunakan untuk menghasilkan keuntungan-keuntungan tersebut. Keuntungan yang telah dirasakan berupa relative dan subjektif.

Kepuasan pelanggan adalah persepsi individu dari performa produk atau jasa dalam hubungannya dengan harapan-harapan.

Mempertahankan konsumen adalah bagaimana mempertahankan supaya konsumen tetap loyal dengan satu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan lain, hamper dalam semua situasi bisnis, lebih mahal untuk mencari pelanggan baru dibandingkan mempertahankan yang sudah ada.

Etika pasar dan tanggung jawab social
Konsep pemasaran social mewajibkan semua pemasar wapada terhadap prinsip tanggung jawab social dalam memasarkan barang atau jasa mereka, oleh sebab itu pemasar harus mampu memuaskan kebutuhan dan keinginan dari targt pasar mereka. Praktek etika dan tangung jawab social dalah bisnis yang bagus, tidak hanya meningkatkan penjualan tetapi menghasilkan kesan yang baik.

Model sederana dari pengambilan keputusan yang dibuat oleh pelanggan
- Input stage mempengaruhi pengakuan konsumen dari sebuah kebutuhan produk dan terdiri dari dua (2) sumber informasi, yaitu usaha pemasaran perusahaan dan pengaruh sosiologi dari luar pelanggan.

- Output stage terdiri dari dua (2) pendekatan yang erat hubungannya dengan aktivitas pengambilan keputusan yang sudah diambil.


Pengertian Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.

Perilaku konsumen adalah perilaku yang konsumen tunjukkan dalam mencari, menukar, menggunakan, menilai, mengatur barang atau jasa yang mereka anggap akan memuaskan kebutuhan mereka.

Perilaku konsumen adalah bagaimana konsumen mau mengeluarkan sumber dayanya yang terbatas seperti uang, waktu, tenaga untuk mendapatkan barang atau jasa yang di inginkan.

Perilaku Konsumen adalah tingkah laku dari konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan pencarian untuk membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk dan jasa mereka. Focus dari perilaku konsumen adalah bagaimana individu membuat keputusan untuk menggunakan sumber daya mereka yang telah tersedia untuk mengkonsumsi suatu barang.


Penggunaan Segmentasi Pasar Dalam Penetapan Strategi Pemasaran

Manajemen Pemasaran. Definisi Segmentasi Pasar

Swastha & Handoko (1997) mengartikan segmentasi pasar sebagai kegiatan membagi–bagi pasar/market yang bersifat heterogen kedalam satuan–satuan pasar yang bersifat homogen.

Sedangkan definisi yang diberikan oleh Pride & Ferrel (1995) mengatakan bahwa segmentasi pasar adalah suatu proses membagi pasar ke dalam segmen-segmen pelanggan potensial dengan kesamaan karakteristik yang menunjukkan adanya kesamaan perilaku pembeli.

Di lain pihak Pride & Ferrel (1995) mendefinisikan segmentasi pasar sebagai suatu proses pembagian pasar keseluruhan menjadi kelompok–kelompok pasar yang terdiri dari orang–orang yang secara relatif memiliki kebutuhan produk yang serupa.
Ada lagi pendapat Swastha & Handoko (1987) yang merumuskan segmentasi pasar adalah suatu tindakan membagi pasar menjadi segmen–segmen pasar tertentu yang dijadikan sasaran penjualan yang akan dicapai dengan marketing mix.

Menurut Kotler, Bowen dan Makens (2002, p.254) pasar terdiri dari pembeli dan pembeli berbeda-beda dalam berbagai hal yang bisa membeli dalam keinginan, sumber daya, lokasi, sikap membeli, dan kebiasaan membeli. Karena masing-masing memiliki kebutuhan dan keinginan yang unik, masing-masing pembeli merupakan pasar potensial tersendiri. Oleh sebab itu penjual idealnya mendisain program pemasarannya tersendiri bagi masing-masing pembeli. Segmentasi yang lengkap membutuhkan biaya yang tinggi, dan kebanyakan pelanggan tidak dapat membeli produk yang benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk itu, perusahaan mencari kelas-kelas pembeli yang lebih besar dengan kebutuhan produk atau tanggapan membeli yang berbeda-beda. Segmen pasar terdiri dari kelompok pelanggan yang memiliki seperangkat keinginan yang sama (Kotler, 2005, p.307.)

Manfaat dan Kelemahan Segmentasi

Banyaknya perusahaan yang melakukan segmentasi pasar atas dasar pengelompokkan variabel tertentu. Dengan menggolongkan atau mensegmentasikan pasar seperti itu, dapat dikatakan bahwa secara umum perusahaan mempunyai motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan dan yang lebih penting lagi agar operasi perusahaan dalam jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif (Porter, 1991).

Manfaat yang lain dengan dilakukannya segmentasi pasar, antara lain:

1. Perusahaan akan dapat mendeteksi secara dini dan tepat mengenai
kecenderungan-kecenderungan dalam pasar yang senantiasa berubah.
2. Dapat mendesign produk yang benar-benar sesuai dengan permintaan pasar.
3. Dapat menentukan kampanye dan periklanan yang paling efektif.
4. Dapat mengarahkan dana promosi yang tersedia melalui media yang tepat bagi
segmen yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
5. Dapat digunakan untuk mengukur usaha promosi sesuai dengan masa atau periode-
periode dimana reaksi pasar cukup besar.

Gitosudarmo (2000) menambahkan manfaat segmentasi pasar ini, sebagai berikut:

1. Dapat membedakan antara segmen yang satu dengan segmen lainnya.
2. Dapat digunakan untuk mengetahui sifat masing-masing segmen.
3. Dapat digunakan untuk mencari segmen mana yang potensinya paling besar.
4. Dapat digunakan untuk memilih segmen mana yang akan dijadikan pasar sasaran.

Sekalipun tindakan segmentasi memiliki sederetan keuntungan dan manfaat, namun juga mengandung sejumlah resiko yang sekaligus merupakan kelemahan-kelemahan dari tindakan segmentasi itu sendiri, antara lain:

1. Biaya produksi akan lebih tinggi, karena jangka waktu proses produksi lebih
pendek.
2. Biaya penelitian/ riset pasar akan bertambah searah dengan banyaknya ragam dan
macam segmen pasar yang ditetapkan.
3. Biaya promosi akan menjadi lebih tinggi, ketika sejumlah media tidak menyediakan
diskon.
4. Kemungkinan akan menghadapi pesaing yang membidik segmen serupa.

Bahkan mungkin akan terjadi persaingan yang tidak sehat, misalnya kanibalisme sesama produsen untuk produk dan segmen yang sama.

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Melakukan Segmentasi

Pengusaha yang melakukan segmentasi pasar akan berusaha mengelompokkan konsumen kedalam beberapa segmen yang secara relatif memiliki sifat-sifat homogen dan kemudian memperlakukan masing-masing segmen dengan cara atau pelayanan yang berbeda.
Seberapa jauh pengelompokkan itu harus dilakukan, nampaknya banyak faktor yang terlebih dahulu perlu dicermati. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Variabel-Variabel Segmentasi

Sebagaimana diketahui bahwa konsumen memiliki berbagai dimensi yang dapat
digunakan sebagai dasar untuk melakukan segmentasi pasar. Penggunaan dasar
segmentasi yang tepat dan berdaya guna akan lebih dapat menjamin keberhasilan
suatu rencana strategis pemasaran. Salah satu dimensi yang dipandang memiliki
peranan utama dalam menentukan segmentasi pasar adalah variabel-variabel yang
terkandung dalam segmentasi itu sendiri, dan oleh sebab ituperlu dipelajari.

Dalam hubungan ini Kotler (1995) mengklasifikasikan jenis-jenis variabel segmentasi sebagai berikut:

1. Segmentasi Geografi
Segmentasi ini membagi pasar menjadi unit-unit geografi yang berbeda, seperti
negara, propinsi, kabupaten, kota, wilayah, daerah atau kawasan. Jadi dengan
segmentasi ini, pemasar memperoleh kepastian kemana atau dimana produk ini harus
dipasarkan.

2. Segmentasi Demografi
Segmentasi ini memberikan gambaran bagi pemasar kepada siapa produk ini harus
ditawarkan. Jawaban atas pertanyaan kepada siapa dapat berkonotasi pada umur,
jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, siklus kehidupan keluarga seperti
anak-anak, remaja, dewasa, kawin/ belum kawin, keluarga muda dengan satu anak,
keluarga dengan dua anak, keluarga yang anak-anaknya sudah bekerja dan
seterusnya. Dapat pula berkonotasi pada tingkat penghasilan, pendidikan, jenis
pekerjaan, pengalaman, agama dan keturunan. Misalnya: Jawa, Madura, Bali,
Manado, Cina dan sebagainya.

3. Segmentasi Psikografi
Pada segmentasi ini pembeli dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan:

a. Status sosial, misalnya: pemimpin masyarakat, pendidik, golongan elite,
golongan menengah, golongan rendah.
b. Gaya hidup misalnya: modern, tradisional, kuno, boros, hemat, mewah dan
sebagainya.
c. Kepribadian, misalnya: penggemar, pecandu atau pemerhati suatu produk.

4. Segmentasi Tingkah Laku
Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan,
sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar yakin
bahwa variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen
pasar.

Segmentasi perilaku dapat diukur menggunakan indikator sebagai berikut (Armstrong, 1997):

1. Manfaat yang dicari
Salah satu bentuk segmentasi yang ampuh adalah mengelompokkan pembeli menurut
manfaat berbeda yang mereka cari dari produk. Segmentasi manfaat menuntut
ditemukannya manfaat utama yang dicari orang dalam kelas produk, jenis orang
yang mencari setiap manfaat dan merek utama yang mempunyai setiap manfaat.
Perusahaan dapat menggunakan segmentasi manfaat untuk memperjelas segmen
manfaat yang mereka inginkan, karakteristiknya serta merek utama yang
bersaing. Mereka juga dapat mencari manfaat baru dan meluncurkan merek yang
memberikan manfaat tersebut.

2. Status Pengguna
Pasar dapat disegmentasikan menjadi kelompok bukan pengguna, mantan pengguna,
pengguna potensial, pengguna pertama kali dan pengguna regular dari suatu
produk. Pengguna potensial dan pengguna regular mungkin memerlukan imbauan
pemasaran yang berbeda.

3. Tingkat Pemakaian
Pasar dapat juga disegmentasikan menjadi kelompok pengguna ringan, menengah
dan berat. Jumlah pengguna berat sering kali hanya persentase kecil dari
seluruh pasar, tetapi menghasilkan persentase yang tinggi dari total
pembelian. Pengguna produk dibagi menjadi dua bagian sama banyak, sebagian
pengguna ringan dan sebagian lagi pengguna berat menurut tingkat pembelian
dari produk spesifik.

4. Status Loyalitas
Sebuah pasar dapat juga disegmentasikan berdasarkan loyalitas konsumen.
Konsumen dapat loyal terhadap merek, toko dan perusahaan. Pembeli dapat
dibagi menjadi beberapa kelompok menurut tingkat loyalitas mereka. Beberapa
konsumen benar-benar loyal, mereka selalu membeli satu macam merek. Kelompok
lain agak loyal,mereka loyal pada dua merek atau lebih dari satu produk atau
menyukai satu merek tetapi kadang-kadang membeli merek lain. Pembeli lain
tidak menunjukkan loyalitas pada merek apapun. Mereka mungkin ingin sesuatu
yang baru setiap kali atau mereka membeli apapun yang diobral.


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN UNTUK PEMBELIAN
ULANG SUATU PRODUK


Proses Pengambilan Keputusan Pembelian

Sebelum dan sesudah melakukan pembelian, seorang konsumen akan melakukan sejumlah proses yang mendasari pengambilan keputusan, yakni:

1. Pengenalan masalah (problem recognition). Konsumen akan membeli suatu produk
sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Tanpa adanya pengenalan
masalah yang muncul, konsumen tidak dapat menentukan produk yang akan dibeli.

2. Pencarian informasi (information source).[1] Setelah memahami masalah yang ada,
konsumen akan termotivasi untuk mencari informasi untuk menyelesaikan
permasalahan yang ada melalui pencarian informasi.[1] Proses pencarian informasi
dapat berasal dari dalam memori (internal) dan berdasarkan pengalaman orang lain
(eksternal

3. Mengevaluasi alternatif (alternative evaluation).
Setelah konsumen mendapat berbagai macam informasi, konsumen akan mengevaluasi
alternatif yang ada untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.

4. Keputusan pembelian (purchase decision).
Setelah konsumen mengevaluasi beberapa alternatif strategis yang ada, konsumen
akan membuat keputusan pembelian.[1] Terkadang waktu yang dibutuhkan antara
membuat keputusan pembelian dengan menciptakan pembelian yang aktual tidak sama
dikarenakan adanya hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan.

5. Evaluasi pasca pembelian (post-purchase evaluation
Merupakan proses evaluasi yang dilakukan konsumen tidak hanya berakhir pada
tahap pembuatan keputusan pembelian. Setelah membeli produk tersebut,
konsumen akan melakukan evaluasi apakah produk tersebut sesuai dengan
harapannya. Dalam hal ini, terjadi kepuasan dan ketidakpuasan konsumen.
Konsumen akan puas jika produk tersebut sesuai dengan harapannya dan selanjutnya
akan meningkatkan permintaan akan merek produk tersebut di masa depan.

Sebaliknya, konsumen akan merasa tidak puas jika produk tersebut tidak sesuai
dengan harapannya dan hal ini akan menurunkan permintaan konsumen di masa
depan.

Faktor-faktor Yang Memengaruhi

Terdapat 5 faktor internal yang relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian:

1. Motivasi (motivation) merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk
mencapai tujuan tertentu.

2. Persepsi (perception) merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau
kejadian yang diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap
rangsangan tersebut.

3. Pembentukan sikap (attitude formation) merupakan penilaian yang ada dalam diri
seseorang yang mencerminkan sikap suka/tidak suka seseorang akan suatu hal.

4. Integrasi (integration) merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan.
Integrasi merupakan respon atas sikap yang diambil. Perasaan suka akan mendorong
seseorang untuk membeli dan perasaan tidak suka akan membulatkan tekad seseorang
untuk tidak membeli produk tersebut.


SUMBER :

http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/segmentasi-pasar-definisi-manfaat-dan.html
http://www.tunardy.com/pengertian-konsumen-menurut-uu-pk/
http://bimotedjolaksito.blogspot.com/2009/01/penerapan-pengertian-konsumen-dalam.htm
http://definisipengertian.com/2011/pengertian-konsumen/
http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_konsumen
http://www.anneahira.com/artikel-umum/perilaku-konsumen.htm

Tugas Ke 2



PERANG MELAWAN KORUPSI

          Demi mewujudkan bangsa yang bersih dari korupsi. Beberapa sekolah dan Instantsi Pemerintah telah mengadakan program warung atau kantin kejujuran, telepon kejujuran, dan permainan ular tangga anti korupsi.
          Warung kejujuran adalah warung yang berada di pinggir jalan yang di buka oleh salah satu masyarakat sekitar. Warung  kejujuran yaitu, warung yang tidak ada penjualnya untuk melayani pembeli yang datang. Pembeli dipersilahkan mengambil ataupun melayani sendiri serta dapat mengambil barang-barang kebutuhannya yang tersedia diwarung tersebut. Setelah itu menaruh uang pembayarannya pada tempat yang telah disediakan. Diwarung atau dikantin ini juga telah menyediakan uang kembalianya sama seperti warung-warung biasa pada umumnya, yang artinya semua uang persediaan kembalian maupun uang pembelian disediakan dalam satu tempat atau wadah. Warung kejujuran di buka bertujuan untuk melatih rasa kejujuran yang terdapat pada diri si pembeli itu dan juga melatih rasa kejujuran si pembeli itu di lingkungan masyarakat.
          Kantin kejujuran adalah kegiatan yang dilakukan disekolah untuk melatih siswa siswinya utuk bersikap dan menjunjung tinggi arti dari nilai kejujuran. Jika ada siswa siswi yang datang kekantin kejujuran mereka bisa mengambil sendiri sesuatu yang mereka inginkan dan membayar pada tempat yang telah disediakan. Melayani diri sendiri merupakan salah satu tindakan untuk mengetahui seberapa jujurnya diri mereka sendiri. Dengan begitu siswa siswi pun di harapkan juga bisa bersikap jujur tidak hanya dilingkungan sekolah tetapi juga di lingkungan masyarakat.
          Telepon kejujuran adalah fasilitas yang disediakan oleh pihak sekolah untuk para siswa siswinya agar tidak ada yang membawa handphone saat pergi ke sekolah. Sama halnya dengan warung atau kantin kejujuran, telepon kejujuran ini juga tidak ada penjualnya. Karena telepon kejujuran ini juga berada di warung atau kanting kejujuran yang di letakkan di atas meja. Meskipun begitu pihak sekolah juga sudah memberikan tarif untuk telepon kejujuran tersebut. Contohnya harga 1 menit untuk GSM adalah Rp. 1.000 sedangkan harga 1 menit untuk CDMA (telepon ke rumah ) Rp. 300. Pembayaran dan kembalian uang juga telah disediakan pada tempat yang sama. Akan tetapi jika ada siswa yang tidak mempunyai uang, mereka akan menulis di buku yang telah di sediakan, jika mereka sudah mempunyai uang mereka akan membayarnya dan memasukkan uang tersenut pada tempatnya serta menghapus tulisan hutang mereka yang telah ditulis pada waktu itu.
          Ular tangga anti korupsi adalah sebuah permainan yang dibuat pada selembar kertas yang berisi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di kehidupan masyarakat. Anak-anak pun juga bisa ikut bermain dalam permainan ini dengan tujuan supaya mereka terbiasa dengan sifat kejujuran sejak kecil. Contohnya jika mereka berdiri pada gambar perampokan mereka akan turun dan langsung masuk penjara. Lalu jika mereka melanggar rambu-rambu lalu lintas mereka akan ditilang. Maksud dari permainan ini pun, selain untuk menanamkan sifat kejujuran sejak kecil, permainan ini juga untuk pembelajaran bagi orang tua. Bahwa orang tua pun harus paham dan mengerti serta memberikan arahan juga pengertian yang positif kepada anak-anak mereka yang masih berada dibawah usia 17 tahun supaya tidak memberikan anak mereka kendaraan beroda dua karena demi keselamatan anak-anak anda. Anak-anak harus diajarkan dan ditanamkan rasa kejujuran juga nilai-nilai anti korupsi pada diri mereka sejak masih kecil atau sejak masuk sekolah play group karena demi terciptanya dan terlahirnya generasi pemuda pemudi bangsa yang bersih dan anti dari korupsi. Janganlah orang tua mendukung permintaan anak anda yang tidak wajar dan janganlah orang tua bersikap tidak jujur dengan memalsukan data kelahiran anak anda untuk mendapatkan SIM, karena dari perilaku orang tua yang tercela seperti itu akan berpengaruh buruk terhadap perilaku anak anda kelak.
          Selain itu ada juga tentang kegiatan cicak versus buaya. Kegiatan ini dilakukan untuk memperkenalkan kepada muri-murid supaya suatu saat nanti mereka tidak terjebak dalam kasus korupsi. Maksud dari buaya itu adalah jika ada penegak hukum yang melanggar peraturan perundang-undangan pemerintah (oknum) maka ia juga tetap harus di hukum tanpa kecuali termasuk semua Instantsi pemerintah, karena demi menjaga kepercayaan dari masyarakat kepada seluruh Instantsi Pemerintah.
          Ada juga beberapa anak bangsa yang melawan korupsi dengan membuat sebuah game untuk melawan korupsi yang di dalamnya tikus sebagai koruptor atau pesuap dan burung garuda sebagai penyelamat atau orang yang tidak mau di ajak korupsi ataupun disuap dan ingin perang melawan korupsi. Selain itu, ada juga mereka yang ingin melawan korupsi dengan membuat sebuah film. Dimana film tersebut berisi mengenai bagaimana cara korupsi itu masuk sebagai kegiatan yang sudah biasa terjadi di Lembaga pemerintah maupun di lingkungan masyarakat. Seperti yang terdapat di film tersebut lembaga pemerintah yang terkecil pun dari mulai  lingkungan Rt, Rw, maupun Lurah itu juga melakukan kegiatan korupsi dengan mudahnya. Sama halnya dengan kehidupan nyata yang sedang terjadi sekarang ini.
          Maraknya kegiatan korupsi sangat berdampak buruk bagi kehidupan sosial, moral dan perekonomian bangsa dan negara ini. Dari semua kegiatan diatas akan sangat baik bila diterapkan dan dilaksanakan di kehidupan masyarakat. Selain itu, bekalilah anak anda dengan ilmu kejujuran dan anti korupsi sejak sedini mungkin agar masa depannya tidak terjebak dalam kasus korupsi yang membuat buruknya moral bangsa ini.


ANALISIS

Sudut Pandang Etika
          Dari wacana di atas dapat dianalisis dari sudut pandang etika, bahwa jika ada kegiatan apapun yang melanggar peraturan perundang-undangan di Indonesia harus mendapatkan sanksi yang tegas dari penegak hukum untuk seluruh kalangan tanpa kecuali . Jangan ada satu pun aparat penegak hukum yang menyembunyikan ataupun membela seseorang yang telah bersalah. Aparat penegak hukum, semua lembaga pemerintah dan semua kalangan jika ada seseorang yang bersalah maka ia tetap bersalah. Jangan sampai tindakan yang salah di anggap benar dan yang buruk di anggap baik. Karena jika hal itu terjadi maka akan memepengaruhi nilai dan kualitas moral etika bangsa ini menjadi sangat buruk. Kegiatan untuk melawan korupsi adalah tindakan yang benar dan harus didukung oleh semua lembaga pemerintah dan aparat penegak hukum. Jangan sampai para petinggi negara juga terlibat kasus korupsi yang sudah jelas melanggar undang-undang pemerintah, merugikan negara, mengambil hak orang lain dan memperburuk moral generasi baru bangsa ini.

Sudut Pandang Norma
          Dari wacana di atas dapat disimpulkan dari sudut pandang norma yaitu norma hukum. Aparat penegak hukum yang membuat peraturan-peraturan harus dijalankan dengan tegas dan benar. Aparat penegak hukum sendiri pun tidak boleh melanggar peraturan yang telah mereka buat sendiri. Aparat penegak hukum harus menyelesaikan setiap kasus pelanggaran dengan jujur dan adil. Korupsi adalah salah satu tindakan yang sudah melanggar norma hukum. Para aparat hukum harus menyelesaikan semua kasus korupsi di negara ini demi tercapainya negara yang makmur, adil dan sejahtera. Tindakan korupsi harus dihilangkan dari negara ini supaya tidak memperburuk moral bangsa. Banyak kasus-kasus korupsi yang belum terselesaikan oleh aparat penegak hukum. Karena ada banyaknya koruptor di negara ini sehingga aparat penegak hukum pun kewalahahan dalam menangani kasus korupsi. Inilah rasa kejujuran yang kurang dari dalam diri mereka masing-masing, sehingga mereka mengabaikan peraturan perundang-undangan yang telah dibuat di negara ini.

Sudut Pandang Nilai
          Dari wacana di atas dapat disimpulkan dari sudut pandang nilai yaitu nilai hukum. Penerapan nilai hukum yang sekarang melekat di masyarakat kepada para penegak hukum bahwa masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada aparat penegak hukum. Karena ternyata aparat hukum pun terlibat kasus korupsi. Selain itu, aparat penegak hukum juga bertindak tidak adil  bagi rakyat kecil. Jika rakyat kecil yang melanggar hukum maka akan mendapatkan hukuman yang berat tetapi jika para pejabat-pejabat yang melanggar hukum, mereka akan mendapat sanksi yang tidak begitu berat. Dari wacana diatas seharusnya seluruh para lembaga pemerintah dan aparat penegak hukum merasa malu. Karena ada banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dari anak-anak sampai orang dewasa untuk memerangi korupsi di negara ini. 


Sumber Rangkuman Wacana diatas diambil dari salah satu acara televisi, yaitu acara Kick Andy Tgl 5 Oktober 2012

Minggu, 30 September 2012

Tugas Pertama

Nilai Dan Norma Adat Istiadat Tumpeng Tumpeng adalah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut; karena itu disebut pula 'nasi tumpeng'. Olahan nasi yang dipakai umumnya berupa nasi kuning, meskipun kerap juga digunakan nasi putih biasa atau nasi uduk. Cara penyajian nasi ini khas Jawa atau masyarakat Betawi keturunan Jawa dan biasanya dibuat pada saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia mengenal kegiatan ini secara umum.Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah bundar tradisional dari anyaman bambu) dan dialasi daun pisang. Sejarah Masyarakat di pulau Jawa, Bali dan Madura memiliki kebiasaan membuat tumpeng untuk kenduri atau merayakan suatu peristiwa penting. Meskipun demikian kini hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal tumpeng. Falsafah tumpeng berkait erat dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa, yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Tumpeng berasal dari tradisi purba masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang, atau arwah leluhur (nenek moyang). Setelah masyarakat Jawa menganut dan dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, nasi yang dicetak berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru, tempat bersemayam dewa-dewi. Meskipun tradisi tumpeng telah ada jauh sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa, tradisi tumpeng pada perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa, dan dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Dalam tradisi kenduri Slametan pada masyarakat Islam tradisional Jawa, tumpeng disajikan dengan sebelumnya digelar pengajian Al Quran. Menurut tradisi Islam Jawa, "Tumpeng" merupakan akronim dalam bahasa Jawa : yen metu kudu sing mempeng (bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Lengkapnya, ada satu unit makanan lagi namanya "Buceng", dibuat dari ketan; akronim dari: yen mlebu kudu sing kenceng (bila masuk harus dengan sungguh-sungguh) Sedangkan lauk-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 bahasa Jawa pitu, maksudnya Pitulungan (pertolongan). Tiga kalimat akronim itu, berasal dari sebuah doa dalam surah al Isra' ayat 80: "Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku yang memberikan pertolongan". Menurut beberapa ahli tafsir, doa ini dibaca Nabi Muhammad SAW waktu akan hijrah keluar dari kota Mekah menuju kota Madinah. Maka bila seseorang berhajatan dengan menyajikan Tumpeng, maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Yang Maha Pencipta agar kita dapat memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan, serta memperoleh kemuliaan yang memberikan pertolongan. Dan itu semua akan kita dapatkan bila kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Tumpeng merupakan bagian penting dalam perayaan kenduri tradisional. Perayaan atau kenduri adalah wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil panen dan berkah lainnya. Karena memiliki nilai rasa syukur dan perayaan, hingga kini tumpeng sering kali berfungsi menjadi kue ulang tahun dalam perayaan pesta ulang tahun. Dalam kenduri, syukuran, atau slametan, setelah pembacaan doa, tradisi tak tertulis menganjurkan pucuk tumpeng dipotong dan diberikan kepada orang yang paling penting, paling terhormat, paling dimuliakan, atau yang paling dituakan di antara orang-orang yang hadir. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. Kemudian semua orang yang hadir diundang untuk bersama-sama menikmati tumpeng tersebut. Dengan tumpeng masyarakat menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan sekaligus merayakan kebersamaan dan kerukunan. Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai 'tumpengan'. Di Yogyakarta misalnya, berkembang tradisi 'tumpengan' pada malam sebelum tanggal 17 Agustus, Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, untuk mendoakan keselamatan negara. Lauk – Pauk Tidak ada lauk-pauk baku untuk menyertai nasi tumpeng. Namun demikian, beberapa lauk yang biasa menyertai adalah perkedel, abon, kedelai goreng, telur dadar / telur goreng, timun yang dipotong melintang, dan daun seledri. Variasinya melibatkan tempe kering, serundeng, urap kacang panjang, ikan asin atau lele goreng, dan sebagainya. Dalam pengartian makna tradisional tumpeng, dianjurkan bahwa lauk-pauk yang digunakan terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi), hewan laut (ikan lele, ikan bandeng atau rempeyek teri) dan sayur-mayur (kangkung, bayam atau kacang panjang). Setiap lauk ini memiliki pengartian tradisional dalam budaya Jawa dan Bali. Lomba merias tumpeng cukup sering dilakukan, khususnya di kota-kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta, umtuk memeriahkan Hari Proklamasi Kemerdekaan. Variasi 1. Tumpeng Robyong - Tumpeng ini biasa disajikan pada upacara siraman dalam pernikahan adat Jawa. Tumpeng ini diletakkan di dalam bakul dengan berbagai macam sayuran. Di bagian puncak tumpeng ini diletakkan telur ayam, terasi, bawang merah dan cabai. 2. Tumpeng Nujuh Bulan - Tumpeng ini digunakan pada syukuran kehamilan tujuh bulan. Tumpeng ini terbuat dari nasi putih. Selain satu kerucut besar di tengah, tumpeng ini dikelilingi enam buah tumpeng kecil lainnya. Biasa disajikan di atas tampah yang dialasi daun pisang. 3. Tumpeng Pungkur - digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang. Dibuat dari nasi putih yang disajikan dengan lauk-pauk sayuran. Tumpeng ini kemudian dipotong vertikal dan diletakkan saling membelakangi. 4. Tumpeng Putih - warna putih pada nasi putih menggambarkan kesucian dalam adat Jawa. Digunakkan untuk acara sakral. 5. Tumpeng Nasi Kuning - warna kuning menggambarkan kekayaan dan moral yang luhur. Digunakan untuk syukuran acara-acara gembira, seperti kelahiran, pernikahan, tunangan, dan sebagainya. 6. Tumpeng Nasi Uduk - Disebut juga tumpeng tasyakuran. Digunakan untuk peringatan Maulud Nabi. 7. Tumpeng Seremonial/Modifikasi Analisis : Norma dan Nilai Norma Norma-norma itu mempunyai dua macam isi, dan menurut isinya berwujud perintah dan larangan. Perintah merupakan kewajiban bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang baik. Sedangkan larangan merupakan kewajiban bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang tidak baik. Nilai Nilai adalah sesuatu yang berguna dan baik yang dicita-citakan dan dianggap penting oleh masyarakat oleh masyarakat. Sesuatu dikatakan mempunyai nilai, apabila mempunyai / kegunaan, kebenaran, kebaikan, keindahan dan religiositas. Dari artikel di atas mengenai “Tumpeng” terdapat pesan yang mengandung nilai dan norma, yaitu : A. Nilai Agama : Sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia mengadakan acara kenduri dan dilengkapi dengan tumpeng. Karena tumpeng merupakan bagian terpenting dalam perayaan kenduri. Maksud diadakannya acara ini adalah sebagai wujud rasa syukur dan terimakasih kita kepada Allah swt atas pemberian rezeki yang melimpah dan berkah lainnya. Meskipun tumpeng berasal dari tradisi purba masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang, atau arwah leluhur (nenek moyang), lalu setelah itu masyarakat Jawa menganut dan dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, nasi yang dicetak berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru, tempat bersemayam dewa-dewi. Tetap saja tumpeng dianggap penting oleh masyarakat Indonesia. Karena semenjak masuknya agama Islam di Indonesia, masyarakat sudah memiliki maksud dan tujuan yang berbeda. Maksud dan tujuan masyarakat Indonesia menjadikan tradisi tumpeng karena untuk menunjukkan rasa syukur mereka kepada Allah swt bukan karena untuk memuliakan gunung yang sebagai tempat bersemayam para hyang (arwah leluhur) ataupun untuk menyembah dewa-dewi. B. Norma Agama : Hampir seluruh masyarakat Indonesia mengenal tumpeng. Meskipun tradisi tumpeng telah ada jauh sebelum masuknya Islam ke pulau jawa, tradisi tumpeng sudah menjadi tradisi dan di anggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan pertolongan dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Acara tumpeng diadakan juga dimaksudkan untuk selalu ingat kepada Allah swt, untuk selalu menjalankan semua perintah-perintahnya dan meninggalkan semua larangannya. Dengan diadakannya acara kenduri atau tumpeng itu merupakan salah satu kegiatan yang baik karena bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah swt. Kita harus selalu ingat untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah swt, kita harus melakukannya dengan kegiatan yang positif, jangan melakukan dengan hal-hal yang negative. C. Nilai Sosial : Jika mengadakan acara kenduri, syukuran atau selamatan maka yang mempunyai acara tersebut akan mengundang semua orang untuk hadir dalam acara tersebut. Pada saat acara di mulai sebelum menikmati tumpeng, akan diadakan pembacaan doa terlebih dahulu. Lalu setelah itu para tamu bisa menikmati tumpeng tersebut bersama-sama. Mengundang semua orang untuk hadir dalam acara kenduri juga dimaksudkan untuk lebih mempererat tali silahturahmi dan membagi kebahagiaan kita kepada orang lain. Kita juga harus saling menjaga hubungan baik antar sesama manusia. D. Norma Kesopanan : Dalam kenduri, syukuran, atau slametan, setelah pembacaan doa, tradisi tak tertulis menganjurkan pucuk tumpeng dipotong dan diberikan kepada orang yang paling penting, paling terhormat, paling dimuliakan, atau yang paling d ituakan di antara orang-orang yang hadir. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. Kemudian semua orang yang hadir diundang untuk bersama-sama menikmati tumpeng tersebut. Dengan tumpeng masyarakat menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan sekaligus merayakan kebersamaan dan kerukunan. Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tumpeng http://asefts63.wordpress.com/materi-pelajaran/pkn-kls-7/norma-norma-yang-berlaku-dalam-kehidupan-bermasyarakat-berbangsa-dan-bernegara/ http://lanats46.blogspot.com/2011/03/nilai-dan-norma-dalam-kehidupan.html

Jumat, 22 Juni 2012

Jurnal Penelitian Ilmiah Kesehatan

HUBUNGAN PENGETAHUAN, KOMUNIKASI INTERPERSONAL, DAN KETERAMPILAN TEKNIK DENGAN PENERAPAN PROSES KEPERAWATAN ABSTRAKSI Keperawatan sebagai suatu profesi mengharuskan pelayanan keperawatan diberikan secara profesional berdasarkan pelaksanaan proses keperawatan dengan menggunakan pengetahuan, komunikasi interpersonal, dan keterampilan teknik yang baik. RSUD Kota Yogyakarta mempunyai perawat dengan berbagai perbedaan pengetahuan, keterampilan komunikasi interpersonal, dan keterampilan teknik yang tentunya akan berpengaruh terhadap pelaksanaan proses keperawatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan penerapan proses keperawatan di RSUD Kota Yogyakarta, hubungan antara komunikasi interpersonal dengan penerapan proses keperawatan di RSUD Kota Yogyakarta, hubungan antara keterampilan teknik yang dimiliki perawat dengan penerapan proses keperawatan di RSUD Kota Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode cross-sectional. Data pengetahuan responden dikumpulkan dengan kuesioner, data tentang komunikasi interpersonal, keterampilan teknik, dan penerapan proses keperawatan dikumpulkan dengan observasi. Subyek penelitian berjumlah 50 orang yaitu semua perawat pelaksana yang melakukan asuhan keperawatan yang bertugas di ruang rawat inap dan instalansi rawat darurat dengan kriteria : pendidikan minimal SPK, telah bekerja di rumah sakit tersebut minimal 1 tahun, tidak sedang cuti dan mendapat tugas belajar, bersedia menjadi responden. Uji hipotesis menggunakan analisis korelasi Rank Spearman dengan tingkat kepercayaan 95% atau ά= 0,05. Hasil penghitungan hubungan antara pengetahuan dengan penerapan proses keperawatan didapatkan rho = 0,186 dan p = 0,197; penghitungan hubungan komunikasi interpersonal dengan penerapan proses keperawatan didapatkan rho = 0,384 dan p = 0,006; penghitungan hubungan keterampilan teknik dengan penerapan proses rho = 0,343 dan p = 0,015. Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan penerapan proses keperawatan; ada hubungan positif dan bermakna antara komunikasi interpersonal dengan penerapan proses keperawatan; ada hubungan positif dan bermakna antara keterampilan teknik dengan penerapan proses keperawatan. Latar Belakang Keperawatan sebagai suatu profesi mengharuskan pelayanan keperawatan diberikan secara profesional oleh perawat. Untuk dapat dikatakan profesional salah satu cirinya adalah pelayanan keperawatan yang diberikan berdasarkan pada ilmu pengetahuan (Flexner, Cit Chitty, 1997). Tingkat pengetahuan yang cukup memungkinkan perawat untuk mengerti tentang suatu hal dan dapat menanggapi berdasarkan rasional dan secara konseptual memahami apa yang harus dilakukan untuk mancapai tujuan yang diinginkan (Taylor et al 1993). Menurut Nursalam (2001), perawat dituntut untuk mempunyai pengetahuan tentang konsep dan teori sebagai dasar interaksi dalam mengartikan suatu informasi yang diterima serta dapat menjalin komunikasi yang efektif. Mencari data dan bekerjasama dengan pasien sangat diperlukan dalam pelaksanaan proses keperawatan, untuk itu sangat penting menyediakan lingkungan yang aman secara emosional yang mengijinkan pasien untuk merasa di dukung dan diterima. Komunikasi memainkan peran kunci dalam mempertahankan lingkungan ini (Sieh dan Brentin, 1997). Komunikasi disini diartikan sebagai komunikasi interpersonal, dimana ketrampilan komunikasi interpersonal memungkinkan perawat untuk menciptakan dan menjaga hubungan terapeutik yang baik yang akan memfasilitasi tercapainya tujuan. Keterampilan berkomunikasi yang baik sangat dibutuhkan dalam semua bidang. Setiap perawat yang ingin menjadi seorang pemberi pelayanan yang efektif pertama-tama harus belajar berkomunikasi. Keterampilan komunikasi juga memungkinkan perawat untuk mengenal pasien, membuat diagnosa dan memenuhi kebutuhan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didalam unit keperawatan dimana perawat bertukar informasi dan ide, pemecahan masalah dilakukan bersama-sama, moral pegawai tinggi, pasien mendemonstrasikan peningkatan kesehatan dan peningkatan kerjasama dalam prosedur keperawatan (Taylor et al, 1993). Menurut Meredith Cit Soenarto (2000), dari hasil penelitian yang sudah dikerjakan selama 30 tahun menunjukkan bahwa komunikasi yang jelek merupakan penyebab terbesar ketidakpuasan pasien. Melakukan tindakan keperawatan atau implementasi harus menggunakan keterampilan tehnik yang bagus. Kepercayaan pasien juga terletak pada bagaimana kemampuan perawat melakukan tindakan-tindakan keperawatan. Keterampilan tehnik yang baik memungkinkan perawat untuk memanipulasi peralatan yang ada dengan terampil sesuai dengan prosedur untuk mencapai tujuan yang diinginkan, meliputi penggunaan alat-alat yang tersedia sesuai dengan kompetensi sehingga menimbulkan stress minimum terhadap klien dan melaksanakan prosedur tindakan dengan benar (Taylor et al, 1993). Rumah Sakit Umum Daerah Kota Yogyakarta (RSUD Kota Yogyakarta) merupakan rumah sakit milik Pemerintah Kota Yogyakarta yang terdiri dari ruang rawat inap Kelas III, II, I, VIP, ICU/ICCU, Instalansi Bedah Sentral, Instalansi Rawat Darurat, dan Rawat Jalan. Menurut data yang diperoleh dari bagian Keperawatan didapatkan bahwa pendidikan tenaga keperawatan yang melakukan asuhan keperawatan di RSUD Kota Yogyakarta terdiri dari beraneka ragam jenis pendidikan diantaranya 1 orang lulusan sarjana, 74 orang lulusan DIII, 35 orang lulusan SPK, 2 orang SPRG, 3 orang pekarya, 4 orang asisten perawat. Dari studi pendahuluan yang dilakukan bulan April 2005 tentang dokumentasi penerapan proses keperawatan dari status pasien bulan Januari sampai Maret yang diambil secara acak di lima ruang rawat inap di RSUD Kota Yogyakarta yang dilakukan oleh tenaga keperawatan, diperoleh hasil bahwa dari lima tahap proses keperawatan telah dilaksanakan pengkajian 77%, diagnosa 56%, perencanaan 46%, pelaksanaan 56,5%, evaluasi 38%. Dari observasi yang dilakukan pada pada bulan Maret 2005 pada tiga orang perawat di tiga ruang rawat inap diperoleh data bahwa dua orang perawat melakukan tindakan keperawatan tidak sesuai dengan prosedur yang ditetapkan baik dalam persiapan alat maupun pelaksanaan, teknik komunikasi yang dilakukan perawat terhadap pasien dan keluarga bukan merupakan tehnik hubungan yang terapeutik, perawat tidak mengajak anggota keluarga untuk bekerjasama dalam menyelesaikan masalah pasien. Dari hasil wawancara pada bulan April 2005 yang dilakukan pada lima perawat di lima ruang rawat inap diperoleh data bahwa tiga orang perawat melakukan penerapan proses keperawatan hanya sebatas yang mereka ketahui dan dilakukan sebatas rutinitas, dua orang perawat diantaranya mengatakan mengisi dokumentasi keperawatan berdasarkan yang mereka mengerti saat ini dan bukan berdasarkan standar asuhan keperawatan yang ada karena mereka belum begitu paham tentang standar tersebut dan satu orang perawat mengatakan tidak tahu tentang standar asuhan keperawatan tersebut, perawat mengatakan mengetahui lima tahap dalam proses keperawatan tetapi tidak bisa menjelaskan komponen-komponen yang terdapat dalam lima tahap proses keperawatan tersebut, shift jaga sore dan malam tidak mendokumentasikan kegiatan keperawatan yang dilakukan (tidak berkesinambungan). Dari data tersebut diatas diperoleh data bahwa terdapat perbedaan tingkat pengetahuan, teknik komunikasi interpersonal, dan tingkat keterampilan teknik yang dimiliki perawat di RSUD Kota Yogyakarta, padahal ketiga hal tersebut adalah keterampilan yang harus dimiliki perawat untuk dapat melaksanakan proses keperawatan dengan baik. Disamping itu juga RSUD Kota Yogyakarta adalah rumah sakit yang menjadi lahan praktek mahasiswa program Diploma III maupun mahasiswa program S1 keperawatan yang semuanya menjadi calon tenaga keperawatan. Dalam fungsinya sebagai lahan praktek maka segala sesuatu yang dilaksanakan dalam memberikan asuhan keperawatan menjadi salah satu materi untuk belajar bagi peserta praktek. Dari latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan pengetahuan, komunikasi interpersonal, dan keterampilan teknik dengan penerapan proses keperawatan dalam asuhan keperawatan RSUD Kota Yogyakarta.” Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan yang dimiliki perawat dengan penerapan proses keperawatan di RSUD Kota Yogyakarta. 2. Untuk mengetahui hubungan antara komunikasi interpersonal yang dilakukan perawat dengan penerapan proses keperawatan di RSUD Kota Yogyakarta. 3. Untuk mengetahui hubungan antara keterampilan teknik yang dimiliki perawat dengan penerapan proses keperawatan di RSUD Kota Yogyakarta. Metode Penelitian Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah perawat di RSUD Kota Yogyakarta sebanyak 125 orang. Sampel penelitian ini berjumlah 50 orang yaitu semua perawat pelaksana yang melakukan asuhan keperawatan yang bertugas di ruang rawat inap dan instalansi rawat darurat dengan kriteria: 1. Pendidikan minimal SPK 2. Telah bekerja di rumah sakit tersebut minimal 1 tahun 3. Tidak sedang cuti dan mendapat tugas belajar 4. Bersedia menjadi responden Pengambilan sampel menggunakan tehnik purposive sampling. Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu menggunakan kuesioner dan observasi. Untuk menilai tingkat pengetahuan perawat tentang proses keperawatan digunakan kuesioner yang dibuat oleh peneliti dengan menggunakan pertanyaan tertutup yang terdiri dari 40 item pernyataan, perawat kemudian memberi jawaban “benar” atau “salah” dari pernyataan yang telah disediakan. Pernyataan berisi tentang pengetahuan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan dokumentasi. Penilaian dilakukan dengan menghitung jawaban yang benar, apabila jawaban yang diberikan benar akan diberi nilai “1” dan jawaban yang diberikan salah diberi nilai “0”. Komunikasi interpersonal perawat dinilai dengan observasi menggunakan check list yang dibuat peneliti. Lembar observasi terdiri dari 20 item yang berisi tentang kegiatan komunikasi yang dilakukan perawat saat melakukan pengkajian/wawancara terhadap pasien/keluarga. Penilaian terhadap komunikasi interpersonal dengan menghitung skor yang telah didapat. Untuk tiap item diberi nilai “2” apabila pernyataan dilakukan responden dengan sempurna, nilai “1” apabilai pernyataan dilakukan responden tetapi tidak sempurna, dan nilai “0” apabila pernyataan tidak dilakukan. Keterampilan teknik dinilai dengan observasi menggunakan check list yang disadur dari instrumen C evaluasi standar asuhan keperawatan di rumah sakit dari DepKes RI 1997. Instrumen yang diambil adalah 8 kegiatan yang sering dilakukan di setiap ruangan antara lain memberikan oksigen, memasang infus, menolong pasien BAB, melaksanakan ambulasi dini, mengukur suhu badan per axillary (ketiak), menghitung nadi dan pernafasan, mengukur tekanan darah, dan memberikan obat melalui suntikan. Perawat diobservasi saat melakukan salah satu tindakan keperawatan. Observasi yang dilakukan adalah untuk item tindakan yang sama atau berbeda. Untuk item tindakan yang dilakukan diberi nilai 1, dan keterampilan yang tidak dilakukan diberi nilai 0 . Untuk mengetahui penerapan proses keperawatan dilakukan dengan observasi terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan dengan menggunakan check list instrumen A evaluasi standar asuhan keperawatan di rumah sakit dari DepKes RI 1997. Pada studi dokumentasi setiap item diberi tanda “√” bila kegiatan dilakukan dan tanda “0” bila kegiatan tidak dilakukan. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan uji validitas dan reliabilitas kuesioner yang dilakukan di RSUD Sleman dengan responden 20 orang dari perawat yang bertugas di ruang rawat inap dan rawat darurat. Dari olah data yang dilakukan dengan tehnik korelasi Product Moment dari Pearson didapat hasil 7 item dari 40 item pernyataan dalam kuesioner tentang pengetahuan proses keperawatan yang tidak valid dan peneliti menghilangkan item tersebut sehingga dalam kuesioner tentang pengetahuan hanya terdapat 30 pernyataan. Untuk uji reliabilitas kuesioner tidak dilakukan. Instrumen observasi tidak dilkukan uji validitas, karena instrumen A dan intrumen C SAK merupakan instrumen yang sudah baku. Untuk menentukan toleransi perbedaan hasil observasi yang dilakukan observer pada studi dokumentasi digunakan tehnik uji reabilitas pengamatan (observasi) yang dikemukakan oleh H.J.X. Fernandes (Arikunto, 2002). Setelah koefisien kesepakatan diperoleh kemudian diinterpretasikan sesuai dengan ketentuan: nilai 1 berarti ideal, nilai 0,8 – 1 berarti sangat baik, nilai 0,6 – 0,8 berarti memadai, dan nilai < 0,6 berarti kurang baik. Uji reliabilitas dokumentasi dilakukan dengan cara dua orang observer melakukan pengamatan terhadap satu catatan keperawatan pasien kemudian hasil kedua pengamatan tersebut dimasukkan kedalam tabel 2x2 untuk dilakukan penilaian dan hasil yang didapat adalah 0,68 yang berarti memadai. Untuk menentukan toleransi hasil observasi yang dilakukan observer pada observasi komunikasi interpersonal digunakan tehnik uji reabilitas pengamatan (observasi) yang dikemukakan oleh H.J.X. Fernandes (Arikunto, 2002). Setelah koefisien kesepakatan diperoleh kemudian diinterpretasikan sesuai dengan ketentuan: nilai 1 berarti ideal, nilai 0,8 – 1 berarti sangat baik, nilai 0,6 – 0,8 berarti memadai, dan nilai < 0,6 berarti kurang baik. Uji reliabilitas observasi komunikasi terapeutik dilakukan dengan cara dua orang observer melakukan pengamatan terhadap satu responden kemudian hasil kedua pengamatan tersebut dimasukkan kedalam tabel 3x3 untuk dilakukan penilaian dan hasil yang didapat adalah 0,7 yang berarti memadai. Untuk menentukan toleransi hasil observasi yang dilakukan observer pada observasi keterampilan teknik, digunakan tehnik uji reabilitas pengamatan (observasi) yang dikemukakan oleh H.J.X. Fernandes (Arikunto, 2002). Setelah koefisien kesepakatan diperoleh kemudian diinterpretasikan sesuai dengan ketentuan: nilai 1 berarti ideal, nilai 0,8 – 1 berarti sangat baik, nilai 0,6 – 0,8 berarti memadai, dan nilai < 0,6 berarti kurang baik. Uji reliabilitas observasi keterampilan teknik dilakukan dengan cara dua orang observer melakukan pengamatan terhadap satu responden yang sedang melakukan tindakan keperawatan kemudian hasil kedua pengamatan tersebut dimasukkan kedalam tabel 2x2 untuk dilakukan penilaian dan hasil yang didapat untuk pengamatan memberikan oksigen didapat hasil 0,81 yang berarti sangat baik, memasang infus didapat hasil 0,88 yang berarti sangan baik, mengukur suhu badan per axillary (ketiak) didapat hasil 0,88 yang berarti sangat baik, menghitung nadi dan pernafasan didapat hasil 0,81 yang berarti sangat baik, mengukur tekanan darahdidapat hasil 0,83 yang berarti sangat baik, serta memberikan obat melalui suntikan didapat hasil 0,83 yang berarti baik. Dari hasil uji kesepakatan didapatkan hasil yang memadai pada studi dokumentasi, hasil yang memadai pada observasi komunikasi interpersonal, dan hasil yang baik dan sangat baik pada observasi keterampilan teknik dengan sekali pengamatan maka uji kesepakatan hanya dilakukan sekali. Dan dari hasil yang didapat maka kegiatan observasi dapat dilaksanakan. Analisa Data Analisa data dilakukan dengan mengecek kelengkapan data dan mengecek kembali instrumen. Kuesioner dicek kembali kelengkapan identitas pengisinya. Selanjutnya dilakukan tabulasi yang meliputi scoring terhadap item-item dalam kuesioner; memberi kode item; pendidikan, lama kerja, dan penataran/pelatihan yang pernah diikuti; dan yang terakhir mengolah data dengan memberikan kode dan melakukan analisa data dengan uji hipotesis. Untuk memperoleh nilai dari kuesioner pengetahuan dilakukan dengan menjumlahkan nilai dari aspek yang didapat kemudian dibagi dengan jumlah nilai aspek yang dinilai dan dikalikan seratus persen. Interpretasi dari nilai tersebut menggunakan pedoman menurut Sugiyono (1996), yaitu: pengetahuan perawat tinggi/baik apabila 76%-100% pertanyaan dijawab benar: pengetahuan sedang apabila 56%-75% pertanyaan dijawab benar : pengetahuan perawat rendah apabila ≤ 55% pertanyaan dijawab benar. Memperoleh nilai dari komunikasi interpersonal menggunakan observasi dilakukan dengan menjumlahkan nilai dari setiap item dari aspek yang didapat kemudian dibagi dengan jumlah nilai aspek yang dinilai dan dikalikan seratus persen. Interpretasi dari nilai tersebut menggunakan pedoman: komunikasi perawat tinggi/baik apabila perolehan nilai 76%-100% ; komunikasi sedang apabila perolehan nilai 56%-75%; komunikasi perawat rendah/buruk apabila perolehan nilai ≤ 55%. Penilaian keterampilan teknik menggunakan observasi dilakukan dengan menjumlahkan nilai dari setiap item dari aspek yang didapat kemudian dibagi dengan jumlah nilai aspek yang dinilai dan dikalikan seratus persen. Untuk masing-masing observasi dihitung sendiri. Setelah diperoleh hasil kemudian ketiga hasil observasi tersebut dijumlahkan dan diambil nilai rata-rata. Interpretasi dari nilai tersebut menggunakan pedoman: keterampilan teknik perawat tinggi/baik apabila perolehan nilai 76%-100% ; keterampilan teknik sedang apabila perolehan nilai 56%-75%; keterampilan teknik perawat rendah/buruk apabila perolehan nilai ≤ 55%. Penilaian dari penerapan proses keperawatan lewat studi dokumentasi dilakukan dengan menjumlahkan nilai dari setiap item dari aspek yang didapat kemudian dibagi dengan jumlah nilai aspek yang dinilai dan dikalikan seratus persen. Interpretasi dari nilai tersebut menggunakan pedoman nilai 76%-100%: dokumentasi baik, 56%-75%: dokumentasi cukup, ≤ 55%: dokumentasi kurang. Uji hipotesis asosiatif korelasi hubungan pengetahuan, komunikasi interpersonal, dan keterampilan tehnik dengan penerapan proses keperawatan dilakukan dengan teknik Korelasi Rank Spearman. Kemudian ditetapkan taraf kesalahan 5% (ά = 0,05), apabila didapatkan p≤0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti menunjukkan ada hubungan antar variabel, tetapi jika hasil yang didapat p≥0,05 maka Ho diterima yang berarti tidak ada hubungan antar variabel. Sumber : http://karyatulisilmiahkesehatan.blogspot.com/2008/10/hubungan-pengetahuan-komunikasi.html

Minggu, 29 April 2012

MAKALAH SEDERHANA

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
PEMBERHENTIAN TENAGA KERJA NAMA : EKA ROHAYATI NPM : 10209937 KELAS : 3 EA 02 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GUNADARMA DEPOK KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan karunia Nya, shalawat dan salam tak lupa tercurah untuk baginda kita Nabi Muhammad SAW sang inspirasi dan teladan sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan Makalah ini dengan judul “PEMBERHENTIAN TENAGA KERJA” guna melengkapi nilai softskill untuk mata kuliah Bahasa Indonesia 2, dapat diselesaikan dengan baik. Dalam penyusunan Makalah ini dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak, penulis telah berusaha untuk dapat memberikan serta mencapai hasil yang semaksimal mungkin sesuai dengan harapan, walaupun di dalam pembuatannya penulis menghadapi berbagai kesulitan karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang penulis miliki. Oleh sebab itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Jono Suroyo, selaku dosen Softskill Bahasa Indonesia 2 2. Kedua orang tua yang sangat penulis cintai yang telah membesarkan, mendidik dan membimbing dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, serta memberikan dukungan moral maupun spiritual sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah ini. 3. Semua teman-teman yang telah memberikan semangat, saran serta kritiknya khusnya kelas 3EA02 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu mengingat keterbatasan penulis dengan segenap kemampuanya saran dan kritik yang membangun akan penulis terima dengan tangan terbuka. Akhir kata dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapakan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Terima kasih. JAKARTA, 29 APRIL 2012 EKA ROHAYATI ii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH 1 1.2 RUMUSAN MASALAH DAN RUANG LINGKUP 2 1.3 TUJUAN PENULISAN 2 BAB II PEMBAHASAN 3 2.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia 3 2.2 Model Manajemen Sumber Daya Manusia 5 2.3 Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia 7 2.4 PengertianPemberhentian 8 2.5 Alasan Pemberhentian 8 2.6 Proses Pemberhentian 12 2.7 Pengaruh Pemberhentian Karyawan Terhadap Perusahaan 13 BAB III SIMPULAN DAN PENUTUP 15 DAFTAR PUSTAKA 16 iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masalah pemberhentian merupakan yang paling sensitive di dalam dunia ketenagakerjaan dan perlu mendapat perhatian yang serius dari semua pihak, termasuk oleh manajer sumber daya manusia, karena memerlukan modal atau dana pada waktu penarikan maupun pada waktu karyawan tersebut berhenti. Pada waktu penarikan karyawan, pimpinan perusahaan banyak mengeluarkan dana untuk pembayaran kompensasi dan pengembangan karyawan, sehingga karyawan tersebut betul-betul merasa ditempatnya sendiri dan mengerahkan tenaganya untuk kepentingan tujuan dan sasaran perusahaan dan karyawan itu sendiri. Demikian juga pada waktu karyawan tersebut berhenti atau adanya pemutusan hububungan kerja dengan perusahaan, perusahaan mengeluarkan dana untuk pensiun atau pesangon atau tunjangan lain yang berkaitan dengan pemberhentian, sekaligus memprogramkan kembali penarikan karyawan baru yang sama halnya seperti dahulu harus mengeluarkan dana untuk kompensasi dan pengembangan karyawan. Di samping masalah dana yang mendapat perhatian, juga yang tak kurang pentingnya adalah sebab musabab karyawan itu berhenti atau diberhentikan. Berbagai alasan atau sebab karyawan itu berhenti, ada yang didasarkan permentiaan sendiri, tapi ada jug aatas alas an karena peraturan yang sudah tidak memungkinkan lagi karyawan tersebut meneruskan pekerjaannya. Akibatnya dari pemberhentian berpengaruh besar terhadap pengusaha maupun karyawan. Untuk karyawan dengan diberhentikannya dari perusahaan atau berhenti dari pekerjaan, berarti karyawan tersebut tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan secara maksimal untuk karyawan dan keluarganya. HAL 1 HAL 2 Atas dasar tersebut, maka manajer sumber daya manusia harus sudah dapat memperhitungkan berapa jumlah uang yang seharusnya diterima oleh karyawan yang berhenti, agar karyawan tersebut dapat memenuhi kebutuhannya sampai pada tingkat dapat dianggap cukup. Dari uraian diatas, penulis merasa tertarik untuk meneliti permasalahan tersebut dengan memilih judul “PEMBERHENTIAN TENAGA KERJA”. 1.2 Rumusan Masalah dan Ruang Lingkup Masalah Dalam penulisan makalah ini, dirumuskan masalah tentang : 1. Apa alasan perusahaan memberhentikan karyawan dari pekerjaannya? 2. Bagaimana proses pemberhentian karyawan? 3. Apa pengaruh Pemberhentian karyawan terhadap perusahaan? Penulis akan membatasi ruang lingkup permasalahan ini yaitu dengan mengambil data-data dari buku perpustakaan. 1.3 Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui: 1.) Alasan perusahaan memberhentikan karyawannya 2.) Bagaimana proses pemberhentian karyawan 3.) Pengaruh pemberhentian karyawan terhadap perusahaan BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia Sebelum memberikan pengertian tentang Manajemen Sumber Daya Manusia alangkah baiknya apabila diketahui terlebih dahulu pengertian Manajemen dan Sumber Daya Manusia itu sendiri. Dalam pendapat beberapa ahli, Manajemen diartikan sebagai ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu. Sumber daya adalah segala sesuatu yang merupakan assets perusahaan untuk mencapai tujuannya. Sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat dikategorikan atas empat tipa sumber daya, seperti Finansial, Fisik, Manuisa dan Kemampuan Teknologi. Hal ini penting untuk diketahui, karena akan bias membedakan dengan pengertian yang sama dengan pengertian manajemen sumber daya manusia, yaitu administrasi kepegawaian atau juga manajemen kepegawaian. Berikut ini adalah pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) menurut para ahli: 1. Menurut Melayu SP. Hasibuan. MSDM adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. HAL 3 HAL 4 2. Menurut Henry Simamora MSDM adalah sebagai pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balasan jasa dan pengelolaan terhadap individu anggota organisasi atau kelompok bekerja. MSDM juga menyangkut desain dan implementasi system perencanaan, penyusunan personalia, pengembangan karyawan, pengeloaan karir, evaluasi kerja, kompensasi karyawan dan hubungan perburuhan yang mulus. 3. Menurut Achmad S. Rucky MSDM adalah penerapan secara tepat dan efektif dalam proses akusis, pendayagunaan, pengemebangan dan pemeliharaan personil yang dimiliki sebuah organisasi secara efektif untuk mencapai tingkat pendayagunaan sumber daya manusia yang optimal oleh organisasi tersebut dalam mencapai tujuan-tujuannya. 4. Menurut Mutiara S. Panggabean MSDM adalah proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pimpinan dan pengendalian kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan analisis pekerjaan, evaluasi pekerjaan, pengadaan, pengembngan, kompensasi, promosi dan pemutusan hubungan kerja guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dari definisi di atas, menurut Mutiara S. Panggabaean bahwa, kegiatan di bidang sumber daya manusia dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu dari sisi pekerjaan dan dari sisi pekerja. Dari sisi pekerjaan terdiri dari analisis dan evaluasi pekerjaan. Sedangkan dari sisi pekerja meliputi kegiatan-kegiatan pengadaan tenaga kerja, penilaian prestasi kerja, pelatihan dan pengembangan, promosi, kompensasi dan pemutusan hubungan kerja. Dengan definisi di atas yang dikemukakan oleh para ahli tersebut menunjukan demikian pentingnya manajemen sumber daya manusia di dalam mencapai tujuan perusahaan, karayawan dan masyarakat. HAL 5 2.2 Model Manajemen Sumber Daya Manusia Di dalam memahami berbagai permasalahan pada manajelen sumber daya manusia dan sekaligus dapat menentukan cara pemecahannya perlu diketahui lebih dahulu model-model yang digunakan oleh perusahaan kecil tidak bias menerapkan model yang biasa digunakan oleh perusahaan besar. Demikian pula sebaliknya. Dalam perkembangan model-model ini berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi serta tuntutannya. Untuk menyusun berbagai aktifitas manajemen sumber daya manusia ada 6 (enam) model manajemen sumber daya manusia yaitu: 1. Model Klerikal Dalam model ini fungsi departemen sumber daya manusia yang terutama adalah memperoleh dan memelihara laporan, data, catatan-catatan dan melaksanakan tugas-tugas rutin. Fungsi departemen sumber daya manusia menangani kertas kerja yang dibutuhkan, memenuhi berbagai peraturan dan melaksanakan tugas-tugas kepegawaian rutin. 2. Model Hukum Dalam model ini, operasi sumber daya manusia memperoleh kekutannya dari keahlian di bidang hukum. Aspek hukum memiliki sejarah panjang yang berawal dari hubungan perburuhan, di masa negosiasi kontrak, pengawasan dan kepatuhan merupakan fungsi pokok disebabkan adanya hubungan yang sering bertentangan antara manajer dengan karyawan. 3. Model Finansial Aspek pinansial manajemen sumber daya manusia belakangna ini semakin berkembang karena para manajer semakin sadar akan pengaruh yang besar HAL 6 dari sumber daya manusia ini meliputi biaya kompensasi tidak langsung seperti biaya asuransi kesehatan, pension, asuransi jiwa, liburan dan sebagainya, kebutuhan akan keahlian dalam mengelola bidang yang semakin komplek ini merupakan penyebab utama mengapa para manajer sumber daya manusia semakin meningkat. 4. Model Manjerial Model manajerial ini memiliki dua versi yaitu versi pertama manajer sumber daya manusia memahami kerangka acuan kerja manajer lini yang berorientasi pada produktivitas. Versi kedua manajer ini melaksanakan beberpa fungsi sumber daya manusia. Departemen sumber daya manusia melatih manajer lini dalam keahlian yang diperlukan untuk menangani fungsi-fungsi kunci sumber daya manusia seperti pengangkatan, evaluasi kinerja dan pengembangan. Karena karyawan pada umumnya lebih senang berinteraksi dengan manajer mereka sendiri disbanding dengan pegawai staf, maka beberapa departemen sumber daya manusia dapat menunjukan manajer lini untuk berperan sebagai pelatih dan fsilitator. 5. Model Humanistik Ide sentral dalam model ini adalah bahwa, departemen sumber daya manusia dibentuk untuk mengembangkan dan membantu perkembangan nilai dan potensi sumber daya manusia di dalam organisasi. Spesialis sumber daya manusia harus memahami individu karyawan dan membantunya memaksimalkan pengembangan diri dan peningkatan karir. Model ini menggabarkan tumbuhnya perhatian organisasi terhadap pelatihan dan pengembangan karyawan mereka. 7 6. Model Ilmu Perilaku Model ini menganggap bahwa, ilmu perilaku seperti psikologi dan perilaku organisasi merupakan dasar aktivitas sumber daya manusia. Prinsipnya adlah bahwa sebuah pendekatan sains terhadap perilaku manusia dapa diterpkan pada hampir semua permasalahan sumber daya manusia bidang sumber daya manusias yang didasarkan pada prinsip sains meliputi teknik umpan balik, evaluasi, desain program dan tujuan pelatihan serta manajemen karir. 2.3 Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia Fungsi manajemen sumber daya manusia sama halnya dengan fungsi yang ada dalam manajemen sendiri, seperti apa yang dikemukakan G. Terry dalam bukunya Principle of Management yang menyatakan bahwa, fungsi manajemen meliputi Planning, Organizing, Actuating dan Controlling (POAC). Henry Fayol menyebutkan bahwa, fungsi manajemen meliputi Planning, Organizing, Commanding, Coordinating dan Controllung (POCCC). Luther Gulick mengemukakan fungsi manajemen meliputi Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting dan Budgeting (POSDCoRB). Dalam manajemen sumber daya manusia beberapa ahli seperti Edwin B. Flippo, Dale Yoder, Manullang, Moekijat dan Malayu SP. Hasibuan serta Henry Simamora mengemukakan fungsi manajemen sumber daya manusia seperti halnya fungsi manajemen yang dikemukakan di atas, adalah sebagai berikut : 1. Perencanaan 2. Rekrutmen 3. Seleksi 8 4. Dekrutmen 5. Orientasi, Pelatihan dan Pengembangan 6. Evalauasi Kinerja 7. Komensasi 8. Pengintegrasian 9. Pemeliharaan 10. Pemberhentian. 2.4 Pengertian Pemberhentian Menurut Undang-undang No. 13 Tahun 2003 mengartikan bahwa Pemberhentian atau Pemutusan hubungan kerja adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antar pekerja dan pengusaha. Sedangkan menurut Moekijat mengartikan bahwa Pemberhentian adalah pemutusan hubungan kerjas seseorang karyawan dengan suatu organisasi perusahaan. 2.5 Alasan Pemberhentian Ada beberapa alasan yang menyebabkan seseorang berhenti atau putus hubungan kerjanya dengan perusahaan, ada yang bersifat karena peraturan perundang- undangan, tapi ada juga karena keinginan pengusaha, agar tidak terjadi hal semena-mena yang dilakukan pengusaha, maka pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan yang berkaitan dengan pemberhentian karyawan. Dalam pengertian ini pemerintah tidak melarang secara umum untuk memberhentikan karyawan dari pekerjaannya. Jangan karena tidak cocok dengan pendapat perusahaan atau bertentangan dengan kehendak atau keinginan pengusaha yang mengharapkan karyawan terus bekerja utuk meningkatkan produksinya, karyawan 9 tersebut langsung diberhentikan, tanpa melalui prosedur yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dan tanpa dijelaskan alasan-alasannya kepada karyawan. Oleh karena demikian, untuk melindungi karyawan dari tindakan demikian, maka pemerintah telah mendaptkan kebijakannya sebagai tertuang di dalam undang- undang No. 13 Tahun 2003 bahwa, pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan: 1. Pekerja berhalangan masuk karena sakit perut menurut keterangan dokter selama waktu tidak melampaui 12 bulan secara terus menerus. 2. Pekerja berhalangan Negara sesuai denganketentuan perundang-undangan yang berlaku. 3. Pekerjaan mengerjakan ibadah yang diperintahkan agamnya. 4. Pekerja menikah 5. Pekerja mempunyai pertalian darah dan atau ikatan perkawinan dengan pekerjan lainnya dalam satu perusahaan, kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama. 6. Pekerja mendirikan, mejadi anggota dan/atau pengurus serikat pekerja, pekerja melakukan kegiatan serikat pekerja di luar jam kerja atau di dalam jam kerja atas kesepakatan pengusaha, atau berdasarkan ketentuan yang diatur dalam pernjanjian kerja bersama. 7. Pekerja yang mengadukan pengusaha kepada yang berwajib mengenai perbuatan pengusaha yang melakukan tindakan pidana kejahatan. 8. Karena perbedaan yang paham, agama, aliran politik, suku, wana kulit, golongan, jenis kelami, kondisi fisik atau status perkawinan. 9. Pekerjaan dalam keadaan cacat tetap, sakit akibat kecelakaan kerja, atau karena hubungan kerja yang menurut surat keterangan dokter yang jangka waktu penyembuhannya belum dapat dipastikan. 10 Di samping hal tersebut di atas yang melarang pengusaha mengadakan pemutusan hubungan kerja dengan karyawannya, tapi ada juga yang membolehkan pengusaha mengadakan pemutusan kerja dengan karyawan dengan asalan pekerja telah melakukan kesalahan berat sebagai berikut: A. Melakukan penipuan, pencurian atau penggelapan dan/atau uang milik perusahaan. B. Memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan sehingga merugikan perusahaan. C. Mabuk, minum-minuman kerjas memabukan, memakai atau mengedarkan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya di lingkungan karja. D. Melakukan perbuatan asusiala atau perjudian di lingkungan karja. E. Menyerang menganiaya, mengancam astau mengintimidasi teman sekerja atau pengusaha di lingkungan kerja. F. Membujuk temasn sekerja atau pengusaha untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. G. Dengan ceroboh astau sengaja merusak atau mebiarkan dalam keadaan bahaya barng milik perusahaan yang menimbulkan rugi bagi perusahaan. H. Dengan ceroboh atau membiarkan teman sekerja atau pengusaha dalam keadaan bahaya di tempat kerja. I. Membongkar atau membocorkan rahasia perusahaan yang harusnya dirahasiakan kecuali untuk kepentingan Negara. J. Melakukan perbuatan lainnya di lingkungan perusahaan yang diancam pidana 5 tashun atau lebih. Semua kegiatan seperti di atas, baru pengusaha memutuskan melakukan pemutusan hubungan hubungan kerja dengna karyawan, apabila memang benar- benar terbukti dengan didukung oleh bukti-bukti, atau tertangkap tasngan dan adanya pengakuan dari karyawan. 11 Melayu SP. Hasibuan menyebutkan beberapa alasan karyawan diberhentikan dari perusahaan : 1. Undang-udang Undang-undang dapat menyebabkan seorang karyawan harus diberhentikan dari suatu perusahaan, antara lain anak-anak karyawan WNA, karyawan yang terlibat organisasi terlarang. 2. Keinginan peruasahaan Keinginan perusahaan memberihentikan karyawan ini disebabkan A. Karyawan tidak mampu mengerjakan pekerjaannya. B. Perilaku dan kedisiplinannya kurang baik. C. Melanggar peraturan dan tata tertib perusahaan. D. Tidak dapat bekerja sama dan konflik dengan karyawan lainnya. E. Melakukan tindakan amoral dalam perusahaan. 3. Keinginan Karyawan A. Pindah ke tempat lain untuk mengurus orang tua B. Kesehatan yang kurang baik C. Untuk melanjutkan pendidikan D. Untuk bewirausaha E. Bebas jasa terlalu rendah F. Mendapat pekerjaan yang lebih baik G. Suasana dan lingkungan pekerjaan yang kurang serius H. Kesempatan promosi yang tidak ada I. Perlakukan yang kurang adil 12 4. Pensiun Undang-undang mempensiunkan seseorang karena telah mencapai batas usia dan masa kerja tertentu. Usia kerja seseorang karyawan untuk setatus kepegawaian adalah 55 tahun atau seseorang dapat dikenakan pensiun dini, apabila menurut keterangan dokter, karyawan tersebut sudah tidak mampu lagi untuk bekerja dan umurnya sudah mencapai 50 tahun dengan masa pengalaman kerja minimal 15 tahun. 5. Kontrak Kerja Berakhir Beberapa perusahaan sekarang ini banyak mengadakan perjanjian kerja dengan karyawanya di dalam sutau kontrak dimana di dalamnya, disebutkan masa waktu kerja atau masa kontraknya. Dan ini alasan juga tidak dilakukan pemutusan hubungan kerja apabila kontrak kerja tersebut di perpanjang. 6. Meninggal dunia 7. Perusahaan dilikudasi Dalam hal perusahaan dilikuidasi masalah pemberhentian karyawan diatur dengan peraturan perusahaan, perjanjian bersama dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk menentukan apakah benar atau tidak perusahaan dilikuidasi atau dinyatakan bangkrut harus didasarkan kepada peraturan perundang-undasngan. 2.6 Proses Pemberhentian Dalam pemberhentian karyawan, apakah yang sifatnya kehendak perusahaan, kehendak karyawan maupun karena undang-undang harus betul-betul didasarkan kepada peraturan, jangan sampai pemberhentian karyawan tersebut menibulkan 13 suatu konflik suatu konflik atau yang mengarah kepada kerugian kepada dua belah pihak, baik perusahaan maupun karyawan. Adapun beberapa cara yang dilakukan dalam proses pemberhentian karyawan: 1. Bila kehendak perusahaan dengan berbagai alasan untuk memberhentikan dari pekerjaannya perlu ditempuh terlebih dahulu: A. Adakan musyawarah antara karyawan dengan perusahaan. B. Bila musyawarah menemui jalan buntu maka jalan terakhir adalah melalui pengadilan atau instansi yang berwenang memutuskan perkara. 2. Bagi karyawan yang melakukan pelanggaran berat dapat langsung diserahkan kepada pihak kepolisian untuk diproses lebih lanjut tanpa meminta ijin legih dahulu kepada Dinas terkait atau berwenang. 3. Bagi karyawan yang akan pensiun, dapat diajukan sesuai dengan peraturan. Demikian pula terhadap karyawan yang akan mengundurkan diri atau atas kehendak karyawan diatur atas sesui dengan paraturan perusahaan dan peraturan perundang-undangan. 2.7 Pengaruh Pemberhentian Karyawan Terhadap Perusahaan Dengan adanya pemberhentian karyawan tentu berpengaruh sekali terhadap perusahaan terutama masalah dana. Karena pemberhentian karyawan memerlukan dana yang cukup besar diantaranya untuk membayar pensiun atau pesangon karyawan dan untuk membayar tunjangan-tunjangan lainnya. Begitu juga pada saat penarikan kembali karyawan, perusahaan pun mengeluarkan dan yang cukup besar untuk pembayaran kompensasi dan pengembangan karyawan. 14 Dengan adanya pemberhentian karyawan tersebut tentu sangat berpengaruh sekali terhadap karyawan itu sendiri. Dengan diberhentikan dari pekerjaannya maka berarti karyawan tersebut tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan secara maksimal untuk karyawan ddan keluarganya. Atas dasar tersebut, maka manajer sumber daya manusia harus sudah dapat memperhitungkan beberapa jumlah uang yang seharusnya diterima oleh karyawan yang behenti, agar karyawan tersebut dapat memenuhi kebutuhannya sampai pada tingkat dianggap cukup. BAB III SIMPULAN DAN PENUTUP 3.1. Simpulan Dari uraian di atas dapat diambil simpulan sebagai berikut : 1. Pemberhentian atau pemutusan hubungan kerja adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja dan perusahaan. 2. Ada beberapa alas an yang menyebabkan seseorang berhenti atau putus hubungan kerjanya dengan perusahaan, diantaranya disebabkan karena: - Perautaran perundang-undangan - Keinginan perusahaan - Keinginan karyawan - Pensiun - Kontrak kerja berakhir - Meninggal dunia - Perusahaan dilikuidasi 3. Pengaruh pemberhentian karyawan terhadap perusahaan cukup besar pengaruhnya terutama dalam masalah dana, karena perusahaan harus membayar pensiun atau pesangon dan tunjangan-tunjangan lainnya kepada karyawan yang diberhentikan. 3.2. Saran Dalam hal pemberhentian karyawan, seharusnya perusahaan bertindak sangat hati-hati dan diperlakukan pertimbangan yang sangat matang karena pengaruhnya cukup besar bagi perusahaan dan karyawan itu sendiri. Bagi perusahaan akan berpengaruh sekali terhadap masalah dana. 15 DAFTAR PUSTAKA Hasibuan, Melayu S.P. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaa. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Ruchiat, 2003. Pengantar Manajemen Sumber Daya Manusia. Majalengka: STIE YPPM. http://www.anakciremai.com/2008/09/makalah-manajemen-tentang manajemen.html 16

Sabtu, 24 Maret 2012

TUGAS 1 - RESENSI

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2012 Tertinggi di ASEAN

Artikel ini dipublish pada 1 June 2011 at 19:29 oleh Choir
Sumber : http://zonaekis.com/pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2012-tertinggi-di-asean/
Penerbit : zonaekis.com ( zona ekonomi islam )



Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara – negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia (5,2 %), Thailand (4,5 %), Filipina (5,0 %) dan Singapura (4,4 %). Indonesia sendiri menargetkan pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 – 6,9 %. Demikian disampaikan Menteri Keuangan Agus D.W. Martowardojo, saat Rapat Paripurna dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Gedung DPR Senayan, Jakarta pada kemarin Selasa (31/05).

Pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 – 6,9 % pada 2012 merupakan tantangan yang cukup besar. Sumber – sumber pertumbuhan ekonomi telah diperkirakan mencapai level yang cukup tinggi. ”Konsumsi masyarakat dan konsumsi pemerintah diperkirakan masing – masing tumbuh 4,8 – 5,2 % dan 6 – 6,4 %,” ujar Menkeu. Sementara itu, investasi telah diperkirakan tumbuh double digit 10 – 10,4 %, dimana dana yang dibutuhkan berkisar sekitar Rp2.800 triliun.
Dari sisi perdagangan internasional, Menkeu mengemukakan, meskipun volume perdagangan dunia diperkirakan melambat di tahun 2012, ekspor – impor diperkirakan tetap meningkat masing – masing sebesar 14,9 – 15,3 % dan 18 – 18,4 %. ”Beberapa langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah meningkatkan daya beli masyarakat melalui pengendalian laju inflasi dan mendorong realisasi penyerapan anggaran, memperbaiki iklim investasi dan mempercepat pembangunan infrastruktur,” paparnya.

Menkeu menyampaikan, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerintah telah menyiapkan kebijakan fiskal yang bersifat ekspansif pada tahun 2012. Kebijakan alokasi anggaran ditujukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkualitas, memperluas penciptaan lapangan kerja, dan mengurangi angka kemiskinan. ”Kebijakan – kebijakan tersebut tercermin dalam peningkatan alokasi yang cukup signifikan untuk pembangunan infrastruktur, berlanjutnya berbagai program pengentasan kemiskinan dan bantuan subsidi untuk pertanian,” jelas Menkeu.

Keseluruhan kebijakan tersebut akan mendukung upaya untuk memperluas lapangan kerja, yang selanjutnya diharapkan akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan menurunkan jumlah penduduk miskin.
Ringkasan atau Sinopsis

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara – negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia (5,2 %), Thailand (4,5 %), Filipina (5,0 %) dan Singapura (4,4 %). Indonesia sendiri menargetkan pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 – 6,9 % yang merupakan tantangan yang cukup besar. Sumber – sumber pertumbuhan ekonomi telah diperkirakan mencapai level yang cukup tinggi. ”Konsumsi masyarakat dan konsumsi pemerintah diperkirakan masing – masing tumbuh 4,8 – 5,2 % dan 6 – 6,4 %,” ujar Menkeu. Sementara itu, investasi telah diperkirakan tumbuh double digit 10 – 10,4 %, dimana dana yang dibutuhkan berkisar sekitar Rp2.800 triliun. Dari sisi perdagangan internasional, Menkeu mengemukakan, meskipun volume perdagangan dunia diperkirakan melambat di tahun 2012, ekspor – impor diperkirakan tetap meningkat masing – masing sebesar 14,9 – 15,3 % dan 18 – 18,4 %. Menkeu menyampaikan, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerintah telah menyiapkan kebijakan fiskal yang bersifat ekspansif pada tahun 2012. Kebijakan alokasi anggaran ditujukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkualitas, memperluas penciptaan lapangan kerja, dan mengurangi angka kemiskinan.


Keunggulan

Dari data artikel ini, kita bisa mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 2012 lebih tinggi dibandingkan Negara ASEAN lainnya. Indonesia menargetkan pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 – 6,9 % merupakan tantangan yang cukup besar. Selain itu, Konsumsi masyarakat dan konsumsi pemerintah diperkirakan masing – masing tumbuh 4,8 – 5,2 % dan 6 – 6,4 % dan investasi telah diperkirakan tumbuh double digit 10 – 10,4 %, dimana dana yang dibutuhkan berkisar sekitar Rp2.800 triliun. meskipun volume perdagangan dunia diperkirakan melambat di tahun 2012, ekspor – impor diperkirakan tetap meningkat masing – masing sebesar 14,9 – 15,3 % dan 18 – 18,4 %.

Kelemahan

Dari data artikel ini, kita bisa mengetahui kelemahan pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 2012. Meskipun tingkat pertumbuhan di Indonesia tahun 2012 lebih tinggi di bandingkan Negara ASEAN lainnya. Namun dari sisi perdagangan internasional, volume perdagangan dunia diperkirakan melambat di tahun 2012. Selain itu, untuk kebijakan – kebijakan yang telah disiapkan oleh pemerintah. Sebaiknya pemerintah segera mewujudkannya untuk dapat secepatnya meningkatkan pendapatan masyarakat dan menurunkan jumlah penduduk miskin.

Pendapat Akhir / Saran

Dari artikel diatas, menurut saya sebaiknya pemerintah segera menjalankan kebijakan – kebijakan yang telah disiapkan agar secepatnya bisa mewujudkan meningkatnya pendapatan masyarakat dan menurunkan jumlah penduduk miskin. Pemerintah juga harus menjalankan kebijakan ini dengan baik dan jangan ada penyelewengan dalam menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan.

Kamis, 17 November 2011

TUGAS SOFTSKILL PERILAKU KONSUMEN KE 3

Faktor – Faktor yang Menentukan Pemilihan Produk Tas Punggung di Kalangan Pelajar & Pekerja Kantoran

Memilih Dan Menggunakan Tas Punggung

Konsumen adalah individu yang mempunyai warna tersendiri dari tiap-tiap individunya, sebagai pemasar kita perlu memahami konsep pemikiran mereka dengan factor-faktor yang mempengaruhi konsumen.

Seiring berkembangnya kebudayaan modern yang terus berkembang, kebutuhan hidup manusia pun terus meningkat sepanjang perkembangan jaman. Faktor budaya, sosial dan psikologi juga mempengaruhi dalam pemilihan produk yang akan di gunakan oleh para konsumen.

Faktor - faktor kebudayaan berpengaruh luas dan mendalam terhadap perilaku konsumen. Kita akan membahas peranan yang dimainkan oleh kebudayaan, sub budaya, dan kelas sosial pembeli.

Budaya, sub-budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku pembentuk paling dasar. Anak-anak yang sedang tumbuh mendapatkan seperangkat nilai, persepsi, preferensi, dan perilaku dari keluarga dan lembaga-lembaga penting lainnya.

Selain faktor budaya, perilaku konsumen di pengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti kelompok acuan, keluarga, peran, dan status sosial. Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut.

Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat dan para anggota keluarga menjadi kelompok acuan primer yang paling penting dan berpengaruh.

Peran dan status sosial seseorang menunjukkan kedudukan orang itu setiap kelompok sosial yang ia tempati. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang. Masing-masing peran menghasilkan status.

Faktor psikologi sangat berpengaruh terhadap keputusan si konsumen dalam memilih sepeda motor apakah yang akan ia pilih, seperti image produk tersebut, harga, spesifikasi, kualitas, dan prestise dikalangan mereka.

Selain dari beberapa faktor diatas yang mempengaruhi perilaku konsumen juga dipengaruhi juga oleh faktor-faktor psikologis seseorang, yang meliputi motivasi, persepsi, pengetahuan dan keyakinan serta sikap.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan produk tas punggung di kalangan pelajar dan pekerja kantoran. Dilihat dari berbagai faktor-faktor yaitu diantaranya:

A. Faktor Budaya

Bagi banyak orang, tas punggung merupakan bagian dari kebutuhan dan bahkan life style. Sekarang ini tidak hanya para pelajar yang menggunakan tas punggung, para pekerja kantoran pun banyak yang menggunakan tas punggung. Bahkan, saat ini tas punggung tidak melulu memiliki model yang itu-itu saja. Untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup, beragam jenis bahan dan tentu saja desain yang digunakan untuk membuat tas punggung.

Pada umumnya tas punggung menjadi pilihan bagi pengguna tas yang membutuhkan tempat cukup luas untuk membawa barang bawaan. Terdapat beragam model tas punggung yang dapat dipilih. Akan tetapi, pemilihan tas punggung tentu saja tidak terbatas pada modelnya.

B. Faktor Sosial

Ada beberapa hal yang harus dicermati saat memilih maupun memakai tas punggung agar terhindar dari pemakaian yang justru menyebabkan sakit punggung dan leher. Pertama, pilih tas punggung yang memiliki lengkungan yang pas dengan punggung anda dan tidak menggantung di bawah punggung. Akan lebih baik untuk menggunakan tas pinggang yang menggantung tidak melibihi lingkar pinggang Anda atau sekitar 4 inci di bawah lingkar pinggang.

Pilih tas punggung yang memiliki dua tali bahu yang dapat Anda sesuaikan dengan postur tubuh. Tali bahu yang pas adalah tali bahu yang turun sekitar 1 sampai 2 inci dari atas bahu. Tas punggung yang memiliki sabuk pinggang juga merupakan pilihan yang tepat karena sabuk pinggang berfungsi untuk mengangkat beban yang Anda bawa dalam tas punggung dapat terangkat dengan semestinya. Ada juga yang menyarankan untuk memilih tas punggung yang memiliki roda. Mungkin ini dimaksudkan jika beban yang anda bawa terlalu berat, Anda bisa membawa tas punggung tersebut seperti saat anda membawa koper.

C. Faktor Psikologis

Selain pemilihan tas punggung pada saat pembelian, penggunaan tas punggung juga berpengaruh pada kesehatan punggung dan leher Anda. Untuk menjaga kenyamanan saat menggunakan tas punggung, jangan membawa barang yang beratnya melibihi 20% dari total berat badan Anda. Letakkan barang Anda yang terberat dalam tas punggung ke dekat punggung. Pastikan bahwa saat pemakaian, tas punggung tepat berada di belakang punggung dengan artian bahwa tas punggung tidak bergeser ke samping.

Keluarkan juga isi tas secara berkala, agar tidak membawa barang-barang yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan ke dalam tas punggung. Jika telah mengetahui apa yang harus diperhatikan saat pemilihan tas punggung, hal terpenting lainnya adalah untuk menyesuaikan dengan anggaran yang Anda miliki.


SUMBER :

http://www.tokotasjakarta.com/tas-punggung/
http://asian-spirits.blogspot.com/2011/01/faktor-budaya-dan-faktor-sosial-yang.html